Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168
Email: info@dmiprimagama.com
BERITA
Kamis, 29 Oktober 2009, 16:20 WIB JENIS KEBENARAN DALAM WACANA HIDUP SEHARI-HARI
Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI PRIMAGAMA INDONESIA
Sering kali kita
asyik berdiskusi atau sekedar berbincang terhadap suatu tema yang sedang
menarik ditengah-tengah kejadian dan peristiwa yang ada di masyarakat. Tanpa
disadari pro dan kontra selalu muncul begitu saja. Ada yang dengan santai
menanggapi kritik dari lawan dialognya, ada yang biasa-biasa saja bahkan ada
yang dengan nada tinggi, emosi dan terlalu sulit untuk dihentikan walau hanya
sejenak saja. Tidak jarang ada kesan ingin menang sendiri. Itulah sebagian
potret hidup sehari-hari. Dari potret tersebut apapun yang sedang dibicarakan
biasanya ada dua hal yang bisa disimpulkan. Pertama, adalah jenis kebenaran. Ada kebenaran material dan ada kebenaran
formal. Ada kebenaran ilmiah, kebenaran alamiah dan kebenaran ilahiyah.
Kebenaran material ditentukan kepada hal-hal yang nyata terjadi walau belum ada
pengesahan dari pihak manapun. Kebenaran material berdasarkan dan berlandaskan
fakta-fakta riil di lapangan. Kebenaran formal, adalah kebenaran yang
dibenarkan oleh peraturan perundangan yang disepakati bersama dan yang sedang
berlaku. Kebenaran material sama dengan kebenaran alamiah sedangkan kebenaran
formal hampir sama dengan kebenaran ilmiah. Kebenaran formal lebih cenderung
bersifat yuridis formal atau legal formal. Kebenaran formal berdasarkan dan
berlandaskan kitab undang-undang. Sedangkan kebenaran ilmiah bersifat
keakademikan atau intelektualisme. Kebenaran ilmiah berdasarkan dan berlandaskan
pada buku referensi ilmiah. Pada kondisi yang sangat ideal bisa saja terjadi
kebenaran formal sama identik dengan kebenaran ilmiah. Kebenaran formal
terkadang sangat pragmatis bergantung kepada sang penguasa. Sedangkan kebenaran
ilmiah berdasarkan penelitian dan idealisme pendidikan. Kebenaran lainnya
adalah kebenaran ilahiah. Kebenaran ilahiah adalah kebenaran yang bersifat
religi dan dogmatis. Ia berdasarkan suara hati, kejujuran dan keyakinan. Dalam rangka mengukur kebenaran ilahiah ini
biasanya berlandaskan kitab suci agama tertentu sesuai dengan keyakinannya
masing-masing. Semua kebenaran bagi masing-masing orang adalah cenderung
bersifat relatif. Untuk urusan antar agama saja bersifat relatif (buktinya ada
perbedaan memilih agama) apalagi terhadap hal-hal urusan diluar keagamaan. Akan
memilih jenis kebenaran yang manakah ketika kita berbeda pendapat dengan pihak
lain ? Akan disandarkan pada jenis kebenaran yang manakah ketika kita
menghadapi persoalan-persoalan hidup sehari-hari ? Konsistensi dan pilihan atas
jenis kebenaran tersebut akan menggambarkan kualitas kepribadian kita. Kedua, adalah sikap atas adanya kebenaran.
Ada yang intelek dan ada yang tidak intelek. Ada yang keras dan sedikit kurang
berbudaya dan ada yang lembut serta santun. Budaya intelektualisme lazimnya
menerima segala sesuatunya adalah secara intelektual pula. Sebaliknya bila
menolak segala sesuatu juga dilakukan secara intelek, bukan secara emosi dan
serampangan saja. Bila seseorang belum mengerti, belum meneliti dan belum merasakan
akan kelemahan dan kelebihan terhadap sesuatu hal, sementara ia langsung
menolak maka ia belum berbudaya secara akademis dan belum intelek. Apalagi
ketika terjadi pro kontra dengan menunjukkan sikap yang arogan, emosional,
berprasangka buruk (su’udzon) dan tidak santun. Konsistensi dan pilihan atas
sikap adanya kebenaran tersebut akan menggambarkan kedewasaan kepribadian kita. Semoga kita termasuk golongan orang
berkepribadian yang berkualitas dan berkepribadian yang dewasa. Perbedaan
pendapat adalah rahmat dan tidak ada satupun hal yang sia-sia, semoga ada
hikmahnya dan bermanfaat.